Tugu Yogyakarta

Tugu merupakan monumen dengan bentuk memanjang yang biasanya dibangun sebagai penghormatan untuk orang penting seperti pahlawan atau penanda peristiwa-peristiwa bersejarah di tempat tersebut. Beberapa tugu yang terletak di pusat kota bisanya memiliki fungsi lain sebagai penunjuk arah, ikon, atau landmark. Contohnya seperti Tugu Monas yang berdiri di DKI Jakarta dan telah dikenal sebagai monumen penting di Indonesia. Di Kota Kembang, Bandung, ada Monumen Bandung Lautan Api—sebuah tugu yang dibangun untuk memperingati peristiwa pembungihangusan di pada tanggal 23 Maret 1946.

Tidak mau kalah, Yogyakarta pun ternyata memiliki Tugu Yogyakarta. Monumen tersebut menjadi landmark khusus bagi para wisatawan yang berkunjung ke ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Tugu Yogyakarta terletak cukup strategis, yaitu di perempatan Jalan Diponegoro, Jalan Jendral Soedirman, Jalan Pangeran Mangkubumi, dan Jalan A.M. Sangaji. Monumen yang berusia tiga abad lebih ini telah menjadi saksi bisu dari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Yogyakarta.

Sejarah Tugu Yogyakarta

Tugu Yogyakarta dibangun pada tahun 1755 oleh Sultan Hamengkubuwono I, tepat satu tahun setelah pembangunan Keraton Yogyakarta. Selain menjadi simbol khusus Yogyakarta, monumen tersebut dinilai memiliki nilai mistis, karena tempatnya berada dalam satu garis yang mengubungkan Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan. Sultan Hamengkubowono I kerap menjadikan tugu itu sebagai acuan jika dia ingin melakukan meditasi menghadap Gunung Merapi yang dianggap keramat hingga saat ini.

Pada awalnya, Sri Sultan Hamengkubuwono I memberi nama Golong Gilig pada monumen ini, dengan tinggi mencapai 25 meter. Bagian bawahnya berupa pagar melingkar, dengan puncak berbentuk bulat. Golong memiliki arti bulat, sedangkangilik artinya silinder. Tugu Yogyakarta juga menjadi penanda Manunggaling Kawula Gusti yang berarti semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajah.

Pernah Hancur Diguncang Gempa

Pada tahun 1867, Yogyakarta pernah diguncang gempa besar. Gempa tersebut membinasakan ratusan rumah hingga menelan korban jiwa. Bukan hanya itu, bencana itu pun menghancurkan beberapa situs penting seperti Benteng Vredeburg, Gedung Agung, hingga Tugu Yogyakarta menjadi tiga bagian. Setelah terbengkalai cukup lama, pada tahun 1889, pemerintah Belanda merenovasi ikon kota itu. Adalah JWS van Brussel dan Opzichter van Waterstaat (Kepala Dinas Pekerjaan Umum) yang bertanggungjawab dalam perbaikan ini dan diawasi langsung oleh Patih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V.

Sayangnya, Belanda punya maksud yang kurang baik saat memperbaiki ikon Kota Yogyakarta tersebut. Tugu yang awalnya memiliki tinggi 25 meter diubah menjadi lebih pendek, yaitu 15 meter saja. Bahkan bagian bawahnya pun diubah menjadi persegi, meski masih membiarkan puncaknya dengan bentuk bulan. Hal tersebut bertujuan untuk meregangkan ikatan antara masyarakat dan keraton, sehingga memudahkan Belanda untuk menguasai Yogyakarta saat itu. Sayangnya, masyarakat dan keraton menyadari niat buruk tersebut dan dapat menggagalkan rencana Belanda.

Akses dan Fasilitas di Sekitar Tugu Yogyakarta

Untuk mencapai Tugu Yogyakarta, Anda bisa mengaksesnya dengan kendaraan pribadi maupun umum, serta becak yang kerap ngetem di sekitar perempatan. Jika Anda ingin menikmatinya tanpa gangguan lalu lintas, kunjungi Tugu Yogyakarta di pagi hari, sekitar pukul lima hingga enam pagi. Beberapa mahasiswa yang pernah mengecap bangku kuliah di Yogyakarta hingga lulus punya sebuah ritual untuk mencium tugu tersebut sebagai tanda kalau mereka akan kembali atau mengabdi pada Kota Yogyakarta.

Konspirasi dalam Tugu Yogyakarta

Renovasi dari pihak Belanda pada Tugu Yogyakarta ternyata menyita perhatian dari para pecinta teori konspirasi. Menurut mereka, jika diperhatikan secara saksama, kita akan menemukan lambang heksagon (segi enam) yang kerap diidentikan dengan Bintang David. Para pecinta teori konspirasi ini berpendapat hal itu terjadi karena Belanda sangat berkaitan erat dengan Freemanson. Maka, untuk menyebarkan landasan tersebut, mereka menyematkan lambang Bintang David pada Tugu Yogyakarta, sehingga masyarakat dapat melihatnya secara ‘tidak sengaja’. Bahkan, beberapa tokoh penting Indonesia pada zaman itu dicurigai telah menjadi anggota tetap Freemanson karena pertemanan mereka dengan Belanda.

Unsur Magis pada Tugu Yogyakata

Terpilihnya Tugu Yogyakarta sebagai landmark ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta ternyata bukan hanya dipengaruhi dari desainnya yang cantik, tetapi juga unsur magis yang begitu kental di tengah masyarakat Jawa. Selain letaknya berada di satu garis dengan Keraton Yogyakarta dan Laut Selatan, masyarakat yang masih percaya dengan ajaran animisme kerap melakukan praktik klenik, sebab mereka percaya jika Tugu Yogyakarta dapat memberi pengaruh pada kota yang mereka diami tersebut.

Penunjuk Arah bagi Para Wisatawan

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, letak strategis dari Tugu Yogyakarta dapat membantu para wisatawan untuk mengunjungi destinasi liburan mereka. Empat tempat yang dapat disambangi dengan acuan dari monumen ini yaitu:

  1. Gunung Merapi

Gunung yang dikeramatkan oleh masyarakat Yogyakarta ini menyimpan banyak misteri yang menarik perhatian para turis. Salah satunya adalah Pasar Brubah yang terletak satu kilometer sebelum puncak. Di siang hari, tempat tersebut menjadi spot favorit pendaki untuk beristirahat. Namun, saat memasuki malam hari, mereka kerap mendengar keramaian di wilayah tersebut. Konon, keriuhan itu terdengar seperti keramaian di pasar yang identik dengan transaksi jual-beli, hingga suara gamelan pun mengalun di sana. Masyarakat percaya jika bebatuan di Pasar Brubah adalah tempat para mahluk halus duduk dan makan di malam hari.

  1. Krapyak

Konon, Krapyak dulunya merupakan hutan lebat tempat para raja Mataram berburu. Di masa kini, Anda dapat menemukan sebuah panggung yang disebut juga Panggung Krapyak di wilayah tersebut sebagai bukti jika Krapyak dulunya merupakan hutan. Desain panggung juga terbilang menarik, sebab ada pintu serta jendela di setiap sisi bangunan dengan bagian atas melengkung dan datar di bagian bawah. Beberapa orang percaya jika panggung tersebut merupakan pondasi awal dari sebuah masjid.

  1. Laut Selatan

Anda pasti sering mendengar legenda seputar Nyi Roro Kidul dari Laut Selatan. Maka, tak jarang jika banyak wisatawan bersikap hati-hati saat berkunjung ke sana dan berusaha mematuhi setiap aturan yang diberikan oleh tetua di wilayah tersebut agar tidak tenggelam. Meski begitu, beberapa ilmuwan mengatakan jika korban yang tenggelam di Laut Selatan terjadi karena gelombang besar yang menjadi salah satu karakteristik khusus dari laut di bagian selatan pesisir Pulau Jawa.

  1. Keraton Yogyakarta

Tempat tinggal para sultan Yogyakarta ini memiliki nama asli Keraton Kasultanan Ngayogyakarta. Selain menjadi tempat wisata favorit, Keraton Yogyakarta juga menyimpan sejarah dan misteri yang menarik untuk disimak. Ikatan kuat dengan Nyi Roro Kidul hingga Gunung Merapi, serta para abdi dalem yang setia mengabdi meski upahnya di bawah rata-rata menjadi topik yang kerap dinikmati oleh para wisatawan. Maka, tidak heran jika Keraton Yogyakarta masih sering dikunjungi turis.

Tugu Yogyakarta

Share Please..