Malioboro Jogja

Kurang lengkap rasanya jika kita jalan-jalan ke tempat wisata tanpa membawa oleh-oleh untuk sanak saudara atau teman spesial. Para wisatawan, baik domestik maupun internasional, biasanya akan mencari tempat seperti toko atau pasar tradisional yang menjajakan barang-barang unik dan khas dari wilayah tersebut. Bagi wisatawan yang sudah menyiapkan dana lebih yang banyak, mereka tak akan segan membeli oleh-oleh tanpa tawar-menawar. Berbeda dengan turis dengan budget seadanya seperti backpacker yang akan menggunakan berbagai jurus untuk menawar harga sesuai kantong mereka.

Di Indonesia, ada banyak kota yang memiliki tempat-tempat khusus untuk membeli oleh-oleh tersebut. Misalnya, Pasar Baru di Kota Bandung yang terkenal dengan baju-baju dan aksesorisnya yang dijual dengan harga yang cukup miring. Pembeli yang datang bukan hanya berasal dari kota itu sendiri, tetapi juga warga luar kota hingga luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.

Sementara jika Anda berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta, pusat perbelanjaan serupa dapat ditemukan di Jalan Malioboro atau Malioboro. Wisatawan merasa belum menapaki Yogyakarta jika mereka melewatkan Malioboro. Maka, sebelum Anda menyempatkan diri untuk mengunjungki kawasan belanja tersebut, simak beberapa fakta menarik seputar Malioboro di bawah ini.

Asal Usul Jalan Malioboro

Ada banyak versi yang membuat kawasan tersebut dinamakan Jalan Malioboro. Kata malioboro sendiri berarti karangan bunga dalam Bahasa Sansekerta. Hal tersebut berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan pada zaman dahulu. Ketika keraton mengadakan acara-acara besar, jalan tersebut biasanya akan dipenuhi karangan bunga dan lambat laun disebut Jalan Malioboro. Sedangkan versi lain menyebutkan jika malioboro berasal dari nama seorang residen dari Kerajaan Inggris bernama Marlborough yang pernah tinggal di sana sekitar tahun 1811 hingga 1816 Masehi.

Jalan Malioboro, yang lahir pada tahun 1758, juga tidak lepas dari unsur magis yang meliputi Yogyakarta. Kawasan ini ternyata berada di garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi di bagian utara dan Laut Selatan di bagian selatan. Selama kurang lebih 257 tahun, Jalan Malioboro telah melewati berbagai fase dari pusat perekonomian di Yogyakarta tempo dahulu, sampai kawasan perbelanjaan yang terkenal di dalam maupun luar negeri.

Dari Zaman Kolonial Belanda, Kawasan Pecinan, dan Sastra Indonesia

Jalan Malioboro pernah menjadi saksi bagaimana para penjajah Belanda ‘mengoprek’ tatanan Kota Yogyakarta. Di tahun 1790, Belanda membangun pertahanan berupa Benteng Vredeburg di bagian selatan jalan ini. Kemudian, mereka membuat Dutch Club di tahun 1822, The Dutch Governor’s Residence di tahun 1830, Java Bank, hingga Kantor Pos demi mempertahankan kekuasaan mereka di Yogyakarta. Hal ini disebabkan oleh keputusan Sultan dari Keraton Yogyakarta yang membagikan tanah sub-segmen di Jalan Malioboro kepada masyarakat Tiongkok. Kawasan tersebut dikenal juga sebagai Distrik Cina.

Perniagaan yang terjadi di antara Belanda dan Tiongkok pada masa  tersebut juga berkembang cukup pesat dan menjadikan Jalan Malioboro sebagai pusat perdagangan di zaman kolonial (1790-1945). Maka, tidak heran jika wisatawan akan menemukan bangunan-bangunan dengan gaya Belanda dan Tiongkok di wilayah tersebut, termasuk Hotel Garuda yang berlokasi di ujung jalan sisi Timur. Penginapan tersebut merupakan hotel terbesar pada zaman Belanda. Selain itu, sejak tahun 1980-an, arus pada Jalan Malioboro diubah menjadi satu arah. Namun, Anda tetap bisa menikmati berbagai fasilitas seperti restoran hingga toko tanda mata di sana.

Dunia sastra Indonesia pun menorehkan sejarah di Jalan Malioboro. Sekitar tahun 1970, kawasan ini menjadi pusat seni budaya yang melahirkan seniman dan sastrwana legendaris yang berpusat di Senisono. Sebut saja Linus Suryadi, Korys Layun Lampan, Emha Ainun Najib, serta beberapa anggota lainnya yang terkumpul pada satu wadah bernama Persada Studi Klub (PSK). Sayangnya, di akhir tahun 1990-an, seni jalanan di Malioboro ini kandas setelah Gedung Senisono ditutup. Namun, budaya lesehan yang diwariskan oleh para seniman tersebut masih tetap berjaya dan menjadi salah satu ciri khas di Jalan Malioboro.

Tips Belanja di Jalan Malioboro

Belanja merupakan tujuan utama para wisatawan saat memasuki Jalan Malioboro. Jika budget Anda pas-pasan, tetapi ingin membeli banyak oleh-oleh dengan harga miring, maka Anda perlu menjadi seorang pembeli pintar. Dalam hal ini, Anda bukan hanya jago menawar harga, tetapi juga menciptakan atmosfer transaksi yang menyenangkan bersama pedagangnya.

Kesatu, jangan ragu melakukan tawar menawar. Taktik bisnis ini sering dipraktikan di Jalan Malioboro. Anda juga tidak perlu segan menawar harga barang hingga separuhnya. Sebab, tak jarang para pedagang melakukan trik, yaitu menjajakan barang dengan harga dua kali lipat dari keuntungan yang mereka inginkan. Misalnya, mereka mau mendapat untung sebesar Rp 40.000 dari sebuah dompet, maka mereka akan menjualnya seharga Rp 80.000. Jika Anda menawar sampai setengah harga, mereka akan menurunkan harga dengan harapan mendapatkan laba dari penjualan tersebut.

Kedua, bagi Anda yang bisa berbicara dalam Bahasa Jawa, gunakan kemampuan ini saat bercakap-cakap dengan pedagang di Jalan Malioboro. Beberapa pedagang yang asli orang Jawa akan merasa senang jika pembeli mereka bisa memakai bahasa tersebut dan memperlancar transaksi jual-beli tanpa hambatan. Mereka akan merasa akrab dengan Anda dan tak jarang akan memberi potongan harga jika Anda lihai melobi dengan Bahasa Jawa. Hal ini tentunya tidak berlaku pada semua pedagang, jadi Anda perlu memastikan dahulu mana orang yang bisa diajak tawar-menawar dengan bahasa ini. Kalau tidak bisa menggunakan Bahasa Jawa, mungkin Anda bisa minta bantuan teman asli dari Jawa sebagai partner belanja di Malioboro.

Ketiga, Anda jangan segan menjelajahi atau masuk ke toko-toko yang tersebar di Jalan Malioboro. Beberapa wisatawan mungkin berpikir jika barang yang dijajakan di toko harganya lebih mahal daripada yang dijual oleh pedagang kaki lima (PKL). Namun, bisa saja Anda menemukan barang incaran dengan kualitas tinggi di toko tersebut. Para pemiliki toko pun tidak akan mengamuk kalau Anda tidak membeli barang di tempat mereka, asalkan Anda tidak bertingkah menyenbalkan seperti terlalu banyak tanya, sehingga memberi kesan akan membeli sesuatu di sana.

Akses dan Fasilitas ke Jalan Malioboro

Anda dapat menempuh perjalanan dari halte yang berada di Yogyakarta, seperti Terminal Giwangan, dengan bus Transjogja trayek 3A atau 3B atau bus kota jalur 4. Selain itu, Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun umum lainnya seperti taksi yang bisa ditemui di jalan-jalan utama. Sebagai kawasan wisata umum, Anda dapat menemukan beragam macam fasilitas seperti hotel dan motel untuk menginap, atau makan di tepi jalan atau restoran mewah. Bahkan saat Anda makan di emperan, tak jarang Anda akan dihibur oleh musisi jalanan yang memainkan lagu-lagu populer hingga ciptaan sendiri. Bahkan kawasan ini lebih hidup di malam hari.

Malioboro Yogyakarta

 

Share Please..